Tampilkan postingan dengan label Welas Asih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Welas Asih. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 Maret 2013

Severn Cullis Suzuki, Seorang Anak 12 Tahun yang Menggetarkan PBB

Kisah ini menceritakan pengalaman nyata mengenai seorang anak yg bernama Severn Cullis Suzuki, seorang anak yang pada usia 9 tahun telah mendirikan Enviromental Children's Organization ( ECO ).

ECO sendiri adalah sebuah kelompok kecil anak yg mendedikasikan diri untuk belajar dan mengajarkan pada anak" lain mengenai masalah lingkungan.

Dan mereka pun diundang menghadiri Konfrensi Lingkungan hidup PBB, dimana pada saat itu Severn yg berusia 12 Tahun memberikan sebuah pidato kuat yg memberikan pengaruh besar ( dan membungkam ) beberapa pemimpin dunia terkemuka.



Apa yg disampaikan oleh seorang anak kecil ber-usia 12 tahun hingga bisa membuat RUANG SIDANG PBB hening, lalu saat pidatonya selesai ruang sidang penuh dengan orang terkemuka yg berdiri dan memberikan tepuk tangan yg meriah kepada anak berusia 12 tahun.

Inilah Isi pidato tersebut: (Sumber: The Collage Foundation)

Halo, nama Saya Severn Suzuki, berbicara mewakili E.C.O - Enviromental Children Organization.
Kami adalah kelompok dari Kanada yg terdiri dari anak-anak berusia 12 dan 13 tahun, yang mencoba membuat perbedaan: Vanessa Suttie, Morga, Geister, Michelle Quiq dan saya sendiri. Kami menggalang dana untuk bisa datang ke sini sejauh 6,000 mil untuk memberitahukan pada anda sekalian orang dewasa bahwa anda harus mengubah cara anda, hari ini di sini juga. Saya tidak memiliki agenda tersembunyi. Saya menginginkan masa depan bagi diri saya saja.

Kamis, 07 Februari 2013

Air Yang Pahit

Ada seorang tua bijak didatangi seorang pemuda yang sedang menghadapi masalah.

Tanpa membuang waktu pemuda itu langsung menceritakan semua masalahnya.

Pak tua bijak hanya mendengar dgn seksama, lalu ia mengambil segenggam serbuk pahit dan meminta anak muda itu mengambil segelas air.

Ditaburkanlah serbuk pahit itu ke dlm gelas & diaduk perlahan,

”Coba minum ini dan katakan bagaimana rasanya?” Ujar pak tua
“Pahit sekali.....” Jawab pemuda itu.



Pak tua itu tersenyum, mengajak pemuda itu utk berjalan ke tepi danau di belakang rumahnya.

Mereka berjalan berdampingan & akhirnya sampailah mereka berdua ke tepi danau yg tenang itu.

Sesampai disana, pak tua itu kembali menaburkan serbuk pahit ke danau itu dan dgn sepotong kayu ia mengaduknya,
“Coba ambir air dari danau itu & minumlah”

Jumat, 04 Januari 2013

Perawat Itu Ternyata Seorang Raja

Selama bertahun-tahun Charles Wesley Mumbere bekerja sebagai perawat pembantu di Maryland dan Pennsylvania. Seperti perawat lainnya, pria berusia 56 tahun itu merawat orang jompo dan mereka yang sedang sakit.

Tak satu pun dari rekan kerja dan pasien yang dirawatnya menduga, bahwa Mumbere masih memiliki 'darah biru'. Mumbere ternyata adalah putra mahkota di tanah kelahirannya, Afrika. Mumbere pun berhak mewarisi tahta kerajaan sejak dia berusia 13 tahun.



Akhirnya, pada Senin, 19 Oktober 2009, merupakan hal luar biasa yang terjadi. Setelah negaranya dilanda pergolakan dan krisis ekonomi, akhirnya raja baru tiba.

Sebanyak 300 ribu rakyat Rwenzururu di Uganda, mengelu-elukan Mumbere. Mereka menyambut Mumbere dengan alat musik, poster, spanduk, hingga kaos bergambar dirinya.

President Uganda Yoweri Museveni pun menggelar rapat umum. Di hadapan rakyat Rwenzururu, Mumbere pun diperkenalkan. Tradisi kerajaan yang dilarang sejak 1967 pun dibuka kembali.

Jumat, 28 Desember 2012

Sepotong Roti


Kisah ini terjadi pada sahabat Abdullah bin Ja’far. Pada suatu hari Abdullah bin ja’far ketika dalam perjalanan menuju ladangnya melewati kebun kurma milik seseorang. Dilihatnya seorang anak laki-laki kecil berkulit hitam, yang ternyata adalah seorang budak yang bekerja di kebun kurma itu.

Abdullah melihat budak kecil itu tengah membuka bekal makan siangnya saat istirahat. Mendadak ada seekor anjing yang tampak kelaparan memasuki kebun kurma. Anjing itu mendekati anak kecil tersebut. Lidahnya menjulur-julur seolah menunjukkan bahwa ia tengah kelaparan.



Budak kecil tersebut melihatnya dan timbullah rasa iba. Dan tanpa berpikir panjang ia mengambil sepotong makanannya lalu diberikan kepada anjing itu. Dengan amat lahapnya si anjing memakannya. Si anjing kembali mendekati si budak kecil tersebut seolah-olah minta makanan lagi.

Si budak kecil tersenyum. Diberikannya sepotong makanan lagi pada anjing yang lantas memakannya dengan lahap. Tetapi itu pun belum cukup bagi si anjing, hingga ia menatap lagi kepada si budak kecil tersebut.

Kamis, 27 Desember 2012

Cintai Semua Nyawa


"Apakah kamu merasa lebih baik hari ini?"” tanya Fan. Ia tahu istrinya menderita TBC, dan tidak mudah untuk disembuhkan, tetapi dia menjaganya dengan lembut dan sepenuh hati. “Terima….kasih..atas…perhatianmu,” istrinya berkata terengah-engah, dengan mimik sangat kesakitan.

Fan meminta dokter terbaik di Chingk’ou, Chen Shihying untuk mengobati istrinya. Dokter Chen memeriksa istrinya dengan hati-hati dan menyuruh Fan untuk menunggu.



“Ada satu cara untuk mengobatinya, karena dia cukup parah,” Kata dokter tersebut. “Ambil seratus kepala burung pipit, dan buat mereka menjadi obat sesuai resep ini. Kemudian pada hari ketiga dan ketujuh makan otak burung pipit tersebut. Itu adalah caranya. Ini merupakan rahasia turun-temurun dari nenek moyangku, dan tidak pernah gagal. Tetapi ingat, kamu harus mempunyai seratus burung pipit. Kamu bahkan tidak boleh kekurangan satu pun.”

Rabu, 26 Desember 2012

Kisah Seorang Dokter asal Solo, Lo Siaw Ging

Ketika biaya perawatan dokter dan rumah sakit semakin membubung tinggi, tidak ada yang berubah dari sosok Lo Siaw Ging, seorang dokter di Kota Solo, Jawa Tengah. Dia tetap merawat dan mengobati pasien tanpa menetapkan tarif, bahkan sebagian besar pasiennya justru tidak pernah dimintai bayaran.



Maka, tak heran kalau pasien-pasien Lo Siaw Ging tidak hanya warga Solo, tetapi juga mereka yang berasal dari Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, Klaten, Boyolali, dan Wonogiri. Usianya yang sudah menjelang 75 tahun tak membuat pria itu menghentikan kesibukannya memeriksa para pasien.

Dokter Lo, panggilannya, setiap hari tetap melayani puluhan pasien yang datang ke tempatnya praktik sekaligus rumah tinggalnya di Jalan Jagalan 27, Kelurahan Jebres, Kota Solo. Mayoritas pasien Lo adalah keluarga tak mampu secara ekonomi. Mereka itu, jangankan membayar ongkos periksa, untuk menebus resep dokter Lo pun sering kali tak sanggup.

Selasa, 25 Desember 2012

Lebih Dari Sekedar Ucapan Terima Kasih


Seorang anak merengek minta dibelikan jagung bakar. Dengan sedikit enggan ibunya mengulurkan selembar uang dan mengawasinya dari kejauhan. Lalu si anak dengan tekun mengikuti gerak-gerik nenek tua penjual jagung bakar memainkan kipas bambunya. Mata kanak-kanaknya membulat terheran-heran mengikuti peletikan biji jagung, asap, serta harum yang tertebar kemana-mana.



Sedangkan nenek tua berpakaian lusuh itu tersenyum melirik anak kecil yang jongkok disebelahnya. Mata tuanya meredup melayang entah kemana. Sesekali dicubitnya pipi anak kecil yang jongkok disebelahnya itu. Kemudian diberikannya jagung bakar itu pada anak yang sedari tadi berharap-harap takjub. Katanya “"Ambil saja buatmu nak. Tak usah dibayar”."

Si ibu mengucapkan terimakasih lalu berkata pada sang ayah, “"Lumayan kita dapat rejeki satu jagung bakar”." Lalu mereka pergi meninggalkan taman kota itu dengan kendaraan roda empat mereka.

Minggu, 16 Desember 2012

Syaidina 'Ali Abi Talib

Suatu hari ketika ‘Ali sedang berada dalam pertempuran, pedang musuhnya patah dan orangnya terjatuh. ‘Ali berdiri di atas musuhnya itu, meletakkan pedangnya ke arah dada orang itu, dia berkata, “Jika pedangmu berada di tanganmu, maka aku akan lanjutkan pertempuran ini, tetapi karena pedangmu patah, maka aku tidak boleh menyerangmu.”

“Kalau aku punya pedang saat ini, aku akan memutuskan tangan-tanganmu dan kaki-kakimu,” orang itu berteriak balik.

“Baiklah kalau begitu,” jawab ‘Ali, dan dia menyerahkan pedangnya ke tangan orang itu.

"“Apa yang sedang kamu lakukan ?”," tanya orang itu kebingungan. “Bukankah saya ini musuhmu?”

Ali memandang tepat di matanya dan berkata, “Kamu berkata kalau memiliki sebuah pedang di tanganmu, maka kamu akan membunuhku. Sekarang kamu telah memiliki pedangku, karena itu majulah dan seranglah aku”.

Tetapi orang itu tidak mampu. “Itulah kebodohanmu dan kesombongan berkata-kata,” jelas ‘Ali. “Di mata Allah tidak ada perkelahian atau permusuhan antara kamu dan aku. Kita semua bersaudara. Perang yang sebenarnya adalah antara kebenaran dan kekurangkebijakan, antara kebenaran dan dusta. Engkau dan aku sedang menyaksikan pertempuran itu. Engkau adalah saudaraku. Jika aku menyakitimu dalam keadaan seperti ini, maka aku harus mempertanggungjawabkannya pada Allah kelak, dan Dia akan mempertanyakan hal ini kepadaku.” Orang itu pun bersujud di kaki ‘Ali.

Kamis, 06 Desember 2012

Berbagi Cinta

Bila ada ajakan untuk berbagi, apa yang ada di pikiran anda? Berbagi dana, pakaian layak pakai, sembako, susu, makanan atau bentuk material lainnya? Jawaban itu boleh jadi karena pengaruh ide materialistik yang telah mengglobal. Mengukur segala sesuatunya dengan ukuran yang bersifat material dan kasat mata. Pengalaman nyata dari Ayah angkat saya mungkin bisa menjadi pelajaran bahwa berbagi tidaklah mesti berbentuk material.

Setiap tahun, Ayah angkat saya punya kebiasan berkeliling ke berbagai panti asuhan dan rumah anak yatim. Kunjungan biasanya dilakukan dua kali. Awal bulan Ramadhan dan akhir bulan Ramadhan. Kunjungan pertama adalah survey untuk mengetahui kebutuhan panti asuhan atau rumah yatim. Kunjungan kedua membawa bantuan sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan.

Ketika berkunjung ke salah satu rumah yatim, Ayah angkat saya bertemu dengan seorang bocah bernama Nina. "“Nina, apa yang anakku mau, sayang?”" begitu Ayah saya membuka percakapan. “"Nina mau baju baru? Sepatu baru? Tas baru? Atau apa, nak?" tambah Ayah saya. “"Nggak ah, ntar om marah.”" jawab Nina. “"Nggak sayang, om tidak akan marah."” Ayah saya menimpali. “"Nggak ah… ntar om marah”" Nina mengulang jawabannya.

Minggu, 18 November 2012

Mengasihi Tanpa Mengatakan Sesuatu

Saya ditraktir makan mie di kedai mie yang terkenal. Harganya tidak mahal dan rasanya sangat lezat sekali. Kami duduk di depan meja panjang yang dapat menampung sekitar sepuluh orang bila mengelilingi meja. Meja sudah terisi enam orang, saya, teman saya dan empat orang pengunjung.

Ketika asyik makan, satu keluarga baru duduk di dekat kami. Tepatnya di antara teman saya dan pengunjung lainnya. Mereka telah memesan mie dan sedang menunggu. Keluarga tersebut terdiri dari sepasang suami istri yang masih muda dan seorang anak yang berusia sekitar enam tahun. Mereka keluarga yang jauh dari sederhana. Pakaiannya agak kusam dan berbau. Si anak kelihatannya baru sembuh dari suatu penyakit yang tidak kami ketahui dan sedang menarik ingusnya keluar masuk. Ingusnya seperti angka sebelas dan terkadang seperti angka satu dengan warna kuning kehijau-hijauan. Si ibu dengan penuh kasih sayang mengelap ingus yang tidak berhenti keluar masuk hidung anaknya. Pasangan itu sangat bahagia melihat anaknya bermain sambil tertawa. Sepertinya makan mie merupakan perayaan menyambut kesembuhannya. Saat mie datang keluarga tersebut makan dengan lahap.

Keadaan tersebut tidak berlaku bagi kami semua terkecuali teman saya. Bagi kami berlima (termasuk saya) keadaan tersebut merupakan bencana dan penyiksaan. Bayangkan aja, bagaimana rasanya makan mie dengan mencium satu keluarga yang bau badannya tidak enak. Belum lagi melihat dan mendengar ingus yang ditarik keluar masuk dan sesekali dibersihkan oleh ibunya.

Malaikat Kecilku, Tolong Ajarkan Kami tentang Kasih...

Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran, “Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan.”

Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu, tampak ketakutan air matanya mengalir. Di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India = curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada “cooling effect”.

Aku mengambil mangkok dan berkata:
"“Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah."”

Aku bisa merasakan istriku cemberut dibelakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya dan berkata:
"“Boleh ayah. Akan aku makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok, tapi semuanya akan aku habiskan, tapi aku akan minta…” agak ragu2 sejenak…“. Akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaanku?"