Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sudut Pandang. Tampilkan semua postingan

Senin, 11 Maret 2013

Biola Yang Merdu


Seorang bapak yang tinggal didesa, suatu hari diajak oleh anaknya untuk tinggal di rumah anaknya di kota. Itu adalah kali pertamanya si bapak menginjakkan kaki di kota setelah sekian lama terus menerus bekerja sebagai petani demi keluarga. Suatu hari dia diajak jalan2 oleh anaknya di sekitar kompleks rumah. Kemudian bapak itu mendengar suatu suara yang menyakitkan telinga... nadanya kecil tinggi dan aneh... Penasaran, dihampirilah sumber suara itu.



Tampak seorang gadis kecil sedang memainkan suatu alat. "Alat apa itu nak ?" "Itu biola ayah." Sambil mengangguk2 bapak tua mengerti bahwa biola adalah suatu alat yang memekakkan telinga dan jelek.

Selang dua hari, di suatu senja bapak tua itu sedang duduk di teras rumah sambil menanti anaknya pulang bekerja. Sayup2 dia mendengar suatu suara yang indah dan merdu. Penasaran dia menghampiri sumber suara itu... Tampaklah seorang pria muda memainkan biola dengan indah... ternyata pria itu seorang maestro biola.

Sambil mengangguk2 taulah bapak itu bahwa ternyata biola jika berada di tangan yang tepat... sungguh merdu suaranya...

Minggu, 27 Januari 2013

Lompatan Belalang

Seekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang lain. Namun ia keheranan kenapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang itu, dan bertanya, “Mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dariusiaataupun bentuk tubuh?”


Belalang itupun menjawabnya, “Dimanakah kau selama ini tinggal? Karena semua belalang yang hidup dialam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan”. Saat itu si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang selama ini membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Jumat, 04 Januari 2013

Batu dalam Ember

Seorang dosen berdiri di depan kelas dengan batu-batu dengan berbagai ukuran di atas mejanya. Saat memulai kuliahnya, sang dosen mengambil sebuah ember plastik kosong dengan diameter 20 cm dan tinggi 20 cm. Lalu mengisi dengan batu yg hampir bulat dengan diameter 18 cm. Dan bertanya pada mahasiswanya, apakah ember ini sudah terisi penuh? Hampir serentak mahasiswanya menjawab bahwa ember sudah penuh.



Kemudian sang dosen mengambil batu-batu kerikil dan memasukkan ke dalam ember dan menggoyang-goyangkan ember tersebut, sehingga kerikil tadi mengisi sela-sela yg kosong dalam ember. Mahasiswanya tertawa.

“Apakah sekarang embernya sudah penuh?”, tanya sang dosen. Mahasiswanya setuju bahwa sekarang ember sudah penuh.

Dosen mengambil pasir dan memasukkan ke dalam ember dan mengoyang-goyangkannya hingga pasir itu mengisi sela-sela yg kosong dalam ember.

“Sekarang”, kata sang dosen, “Ini adalah gambaran kehidupan kita”.

Senin, 03 Desember 2012

Pegawai Hotel yang Sabar


Beberapa bulan yg lalu di meja pemesanan kamar hotel Memphis, saya melihat suatu kejadian yg bagus sekali, bagaimana seseorang menghadapi orang yang penuh emosi.

Saat itu pukul 17:00 lebih sedikit, dan hotel sibuk mendaftar tamu-tamu baru. Orang di depan saya memberikan namanya kepada pegawai di belakang meja dengan nada memerintah. Pegawai tsb berkata, "Ya, Tuan, kami sediakan satu kamar single untuk Anda."

"Single?" bentak orang itu, "Saya memesan double."

Pegawai tsb berkata dg sopan, "Coba saya periksa sebentar." Ia menarik permintaan pesanan tamu dari arsip dan berkata, "Maaf, Tuan. Telegram Anda menyebutkan single. Saya akan senang sekali menempatkan Anda di kamar double, kalau memang ada. Tetapi semua kamar double sudah penuh."

Tamu yg berang itu berkata, "Saya tidak peduli apa bunyi kertas itu, saya mau kamar double."

Kemudian ia mulai bersikap "Anda-tau-siapa-saya?" diikuti dengan "Saya akan usahakan agar Anda dipecat. Anda lihat nanti. Saya akan buat Anda dipecat."

Di bawah serangan gencar, pegawai muda tersebut menyela, "Tuan, kami menyesal sekali, tetapi kami bertindak berdasarkan instruksi Anda."

Jumat, 23 November 2012

Pencuri Kue

Seorang wanita sedang menunggu di bandara suatu malam. Masih ada beberapa jam sebelum jadwal terbangnya tiba. Untuk membuang waktu,ia membeli buku dan sekantong kue di toko bandara lalu menemukan tempat untuk duduk.

Sambil duduk wanita tersebut membaca buku yang baru saja dibelinya. Dalam keasyikannya tersebut ia melihat lelaki disebelahnya dengan begitu berani mengambil satu atau dua dari kue yang berada diantara mereka.

Wanita tersebut mencoba mengabaikan agar tidak terjadi keributan. Ia membaca, mengunyah kue dan melihat jam. Sementara si Pencuri Kue yang pemberani menghabiskan persediaannya. Ia semakin kesal sementara menit-menit berlalu. Wanita itupun sempat berpikir: ("Kalau aku bukan orang baik sudah kutonjok dia!") Setiap ia mengambil satu kue, Si lelaki juga mengambil satu.

Ketika hanya satu kue tersisa, ia bertanya-tanya apa yang akan dilakukan lelaki itu. Dengan senyum tawa di wajahnya dan tawa gugup, Si lelaki mengambil kue terakhir dan membaginya dua. Si lelaki menawarkan separo miliknya sementara ia makan yang separonya lagi. Si wanita pun merebut kue itu dan berpikir ("Ya ampun orang ini berani sekali"), dan ia juga kasar malah ia tidak kelihatan berterima kasih.

Belum pernah rasanya ia begitu kesal. Ia menghela napas lega saat penerbangannya diumumkan.Ia mengumpulkan barang miliknya dan menuju pintu gerbang. Menolak untuk menoleh pada si "Pencuri tak tahu terimakasih!".

Rabu, 21 November 2012

Penebang Kayu

Dijaman dulu, ada seorang penebang kayu. Suatu hari dia kehilangan kapaknya, dan tanpa kapak dia tidak bisa bekerja. Dia mencurigai tetangganya yang mencuri kapaknya. Pagi itu ketika sang tetangga berangkat, dia menutupi peralatan kerjanya dengan kain, rasanya kapaknya pasti disembunyikan disana, apalagi tetangga ini senyumnya terasa tidak tulus. Pasti dia pencurinya. Besoknya, bahkan terasa jadi ramah berlebihan karena biasanya jarang menyapa, kali ini menyempatkan berbasa basi. Apalagi dilihat hasil tebangan kayunya 2 hari ini banyak sekali, pasti dia menebang menggunakan kapak curiannya. Semakin dipikir semakin yakin.

Pada hari ketiga baru disadari ternyata kapaknya tersimpan dilaci dapur. Istrinya yang sedang keluar kota menyimpankan disana. Senang benar hatinya karena kapaknya dapat ditemukan kembali. Dia amati lagi tetangganya yang lewat, dan dia merasa tetangga ini tidak berkelakuan seperti pencuri, dan senyumnya juga tulus tulus saja. Bahkan percakapannya terasa sangat wajar dan jujur. Dia heran kenapa kemarin dia melihat tetangganya seperti pencuri?