Tampilkan postingan dengan label Toleransi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toleransi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Juli 2013

Kepala Ikan

Alkisah pada suatu hari, diadakan sebuah pesta emas peringatan 50 tahun pernikahan sepasang kakek-nenek. Pesta ini pun dihadiri oleh keluarga besar kakek dan nenek tersebut beserta kerabat dekat dan kenalan. Pasangan kakek-nenek ini dikenal sangat rukun, tidak pernah terdengar oleh siapapun bahkan pihak keluarga mengenai berita mereka perang mulut. Singkat kata mereka telah mengarungi bahtera pernikahan yang cukup lama bagi kebanyakan orang. Mereka telah dikaruniai anak-anak yang sudah dewasa dan mandiri baik secara ekonomi maupun pribadi. Pasangan tersebut merupakan gambaran sebuah keluarga yang sangat ideal.



Disela-sela acara makan malam yang telah tersedia, pasangan yang merayakan peringatan ulang tahun pernikahan mereka ini pun terlihat masih sangat romantis. Di meja makan, telah tersedia hidangan ikan yang sangat menggiurkan yang merupakan kegemaran pasangan tersebut. Sang kakek pun, pertama kali melayani sang nenek dengan mengambil kepala ikan dan memberikannya kepada sang nenek, kemudian mengambil sisa ikan tersebut untuknya sendiri.



Sabtu, 02 Maret 2013

Anak Anjing Untuk Dijual


”Seorang petani hendak menjual beberapa ekor anak anjing. Ia membuat papan pengumuman ”anjing dijual” dan memakukannya pada sebuah tiang di ujung halamannya. Sementara ia sedang memakukannya, ia merasa seseorang menarik pakaian kerjanya. Ia menengok dan menatap mata seorang anak kecil.



”Tuan,” kata anak itu, ”saya ingin membeli salah satu anak anjing Tuan.”

”Nah,” kata sang petani, sambil mengusap keringat dari belakang lehernya, ”anak-anak anjing ini dari ras unggul dan harganya cukup mahal.”

Anak itu menundukkan kepalanya sejenak. Lalu merogoh sakunya, ia mengeluarkan segenggam uang receh dan menyodorkannya kepada sang petani. ”Saya mempunyai uang tiga puluh sembilan sen. Apakah cukup untuk melihat-lihat?”

”Tentu,” kata sang petani.

Lalu sang petani bersiul, ”Kemari, Dolly!” demikian ia memanggil.

Kamis, 14 Februari 2013

Wanita Yang Disukai Pria


Pria semasa muda selalu melihat wajah dan tubuh wanita, saat ia memilih istri atau pacar. Apakah dia benar-benar mencintainya wanita itu atau tidak, itu tidaklah penting, yang terpenting adalah demi gengsi sang pria, “itulah alasan sebenarnya!”



Tapi acap kali pria setelah menginjak usia paro baya, baru menyadari bahwa kecantikan seorang wanita bukanlah terletak pada permukaan kulit, melainkan terletak pada sifatnya yang lembut dan murah hati, bertabiat sabar dan penuh pengertian. Ketika pria sedang resah dan gelisah, apabila sang wanita bisa menunjukkan perhatian menghibur dengan sedikit manja, mengatakan perkataan dengan lemah lembut, maka saat itu juga tidak perduli seberapa sibuk atau seberapa berat beban yang dipikul, si pria akan merasa lega.

Hanya saja wanita saat sekarang ini hanya memikirkan diri sendiri, bersuara lebih besar daripada pria, menghamburkan uang untuk bersolek, pakaian jika bukan bermerek tidak dipakai, tidak bisa memasak, tidak mengurus anak. Jika pria tidak mengerjakan pekerjaan rumah tangga maka ia akan mengadu kesana kemari sambil menangis meratap, sudah sepantasnya suami bersusah payah mencari nafkah.