Tampilkan postingan dengan label Memahami. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Memahami. Tampilkan semua postingan

Jumat, 28 Desember 2012

Ulang Tahun Pernikahan

Dikisahkan, disebuh gedung pertemuan yang amat megah, seorang pejabat senior istana sedang menyelenggarakan pesta ulang tahun pernikahannya yang ke-50. Peringatan pernikahan emas itu ramai didatangi oleh tamu-tamu penting seperti para bangsawan, pejabat istana, pedagang besar serta
seniman-seniman terpandang dari seluruh pelosok negeri. Bahkan kerabat serta kolega dari kerajaan-kerajaan tetangga juga hadir. Pesta ulang tahun pernikahan pun berlangsung dengan megah dan sangat meriah.



Setelah berbagai macam hiburan ditampilkan, sampailah pada puncak acara, yaitu jamuan makan malam yang sangat mewah. Sebelum menikmati jamuan tersebut, seluruh hadirin mengikuti prosesi penyerahan hidangan istimewa dari sang pejabat istana kepada istri tercinta. Hidangan itu tak lain
adalah sepotong ikan emas yang diletakkan di sebuah piring besar yang mahal. Ikan emas itu dimasak langsung oleh koki kerajaan yang sangat terkenal.

Selasa, 04 Desember 2012

Sepasang Sepatu Sport


Menjadi “sama dan serupa” dengan remaja lain merupakan keinginan dari semua remaja. Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 1963 saya merasa harus memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang sedang “in”. Persoalannya, bulan lalu saya baru saja membeli sepasang sepatu kulit!

Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh sebab itu saya datang kepada Ayah minta bantuannya. “Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport”, ujar saya suatu petang di bengkel di mana Ayah saya bekerja sebagai montir.

“Willie” Ayah kelihatannya terkejut. “"Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi mengapa kini kau perlukan sepatu baru?”"

“"Setiap orang memakai sepatu sport, Yah!”"

“"Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebut tidak menjadikan Ayah mudah membayar sepatu sport.”"

Gaji Ayah memang kecil dan sering tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“"Ayah, saya tampak seperti bloon memakai sepatu jenis ini” kataku sambil menunjuk kepada sepasang sepatu oxford baru."

Ayah memandang dalam dalam ke mataku.

Selasa, 20 November 2012

Kisah Sang Kondektur Wanita

Ayo…. Ayo …. Ancol, Sunter Podomoro, Priok…."
Ancol, Sunter Podomoro, Priok….
Tunggu….!!! Tunggu….!!!
Ada sewa! Ayo…ayo naik…. Tarik!
Begitulah, kondektur wanita itu berteriak lantang menawarkan busnya. Tak kenal lelah, panas, hujan, terik, semuanya dilaluinya tanpa merasa terbebani.

Profesi wanita itu hanya sebagai kondektur. Tidak ada yang istimewa dengan dirinya, pakaiannya, gayanya ataupun suaranya yang melengking di tengah deru kendaraan. Yang membuat Anna tertarik untuk memperhatikannya adalah semata-mata karena ia seorang wanita yang bekerja sebagai kondektur. Sebuah profesi yang masih sedikit langka dan sulit dilakukan oleh kaum hawa.

Entah mengapa Anna begitu tertarik memperhatikan gerak-geriknya. Lincah, gesit, spontan dan sangat percaya diri

Bus berjalan perlahan meninggalkan terminal. Di tengah jalan, tidak seberapa jauh dari pusat perbelanjaan besar, bus berhenti. Kami para penumpang biasa menyebutnya dengan istilah “ngetem” yakni berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Tidak beberapa lama setelah penumpang memenuhi bangku-bangku kosong, bus mulai berjalan perlahan, perlahan, perlahan hingga akhirnya bergerak menjauh. Dengan mantap, sang supir pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Tak terasa bus sudah berjalan jauh, tanpa komando dari kondektur.