Tampilkan postingan dengan label Tanpa Pamrih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanpa Pamrih. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Januari 2013

Kisah Dermawan di Kereta Api Parahyangan

Sebagai pekerja ulang alik Bandung-Jakarta, kereta api Parahyangan dulu adalah sarana angkutan favorit saya, sebelum dibangunnya jalan tol Cipularang yang menyingkat waktu tempuh perjalanan dengan bus. Bertahun tahun saya jadi pelanggan setia kereta api legendaris ini, sampai hapal dengan awak keretanya, dan hapal pula dengan sesama pelanggan setia lainnya. Saat jadwal penumpang padat, hari Jum'at - Minggu, kita jarang dapat tiket duduk, sehingga berserakan di mana saja, asal bisa terangkut ke tujuan.

Dulu salah satu tempat favorit saya adalah gerbong barang atau dikenal dengan istilah BP. Ruangannya luas dan sering kosong karena memang jarang membawa barang. Cukup gelar tikar dan duduk dimana saja yang saya mau.

Karena sering naik di gerbong itu, akhirnya saya kenal dengan salah seorang penumpang aneh yang sering bertemu pada beberapa perjalanan. Ia adalah seorang lelaki tua yang sederhana. Menariknya, ia selalu membawa sekarung bawaan yang besar. Biasanya ada yang membantunya membawa karung-karung tersebut. Saya kira tadinya ia bawa barang dari Bandung utk dijual di Jakarta, atau sebaliknya. Tapi ternyata ketika melewati daerah tertentu, sekitar daerah Cikalong (jalur antara Purwakarta-Padalarang), ia membuka karung tersebut yang ternyata isinya berbagai macam makanan (roti bungkus, mie, dll).

Selasa, 08 Januari 2013

Rumah Terakhir

Seorang arsitek memutuskan untuk pensiun dari pekerjaannya. Dia ingin istrahat dari bisnis perumahan dan menjalani kehidupan yang beru bersama keluraga dan anak-anaknya. Dia sudah merasa jenuh dengan pekerjaannya dan kehilangan motivasi.

Pimpinannya merasa kehilangan seorang arsiteknya yang andal. Dia meminta agar sang arsitek membuatkan satu lagi rumah sebagai kenang-kenangan. Sang arsitek menyetujuinya. Tapi karena dia sudah kehilangan motivasi, dia membangun rumah itu dengan asal-asalan. Menggunakan material yang tidak bagus.



Ketika pekerjaannya sudah selesai, sang arsitek mendatangi pimpinannya di kantornya. “Pak rumahnya sudah selesai, dan saya mau mengundurkan diri sekarang”, kata sang arsitek.

“Oke”, pimpinannya menyahut, “Mari kita lihat hasil pekerjaanmu”.

Saat melihat-lihat rumah tersebut pimpinannya mendekati sang arsitek dan berkata, “Ini adalah rumahmu”, sambil menyerahkan kunci rumah tersebut. “Ini sebagai hadiah dari saya atas pengabdianmu selama ini.”

Selasa, 18 Desember 2012

Bunda Theresa, Pelayan Bagi Kaum Miskin

Lahir di Skopje, Albania pada 26 Agustus 1910 dengan nama Agnes Gonxha Bojaxhiu, Bunda Theresa adalah bungsu dari tiga bersaudara. Ketika berusia delapan tahun, ayahnya meninggal dunia dan meninggalkan keluarganya dengan kesulitan ekonomi. Meski demikian, ibunya memelihara Gonxha dan ketiga saudaranya dengan penuh kasih sayang.



Hidup di tengah keluarga Katolik yang taat, membuat Gonxha kecil terbiasa berdoa setiap sore ke gereja. Ia juga terbiasa dengan sikap keluarganya yang sangat murah hati dan memperhatikan kehidupan fakir miskin. Hal ini yang lalu membentuk pribadi Gonxha menjadi seorang yang penuh kasih terhadap sesama.

Pada usia 18 tahun, Gonxha memutuskan untuk menjadi “pelayan” Tuhan. Ia pun meninggalkan kampung halamannya menuju India untuk menjalani pendidikan sebagai seorang biarawati. Disana dia melakukan sumpah biarawatinya, dan memilih nama Theresa sebagai gelar keagamaannya.

Gonxha yang kemudian dipanggil dengan Suster Theresa, membaktikan dirinya di sebuah sekolah menengah atas di Kalkuta, yaitu St. Mary. Ia mengajar geografi dan katekisasi. Beliau mengabdi selama kurang lebih tujuh belas tahun. Selama belasan tahun itu pula, kemiskinan di sekitarnya meninggalkan kesan yang begitu mendalam di hati Suster Theresa.

Jumat, 14 Desember 2012

Gratis Sepanjang Masa


Suatu sore, seorang anak menghampiri ibunya di dapur. Ia menyerahkan selembar kertas yang telah ditulisinya. Setelah sang ibu mengeringkan tangannya dengan celemek. Ia pun membaca tulisan itu dan inilah isinya:

Untuk memotong rumput Rp. 2.000,-
Untuk membersihkan kamar tidur minggu ini Rp. 1.000,-
Untuk pergi ke toko disuruh ibu Rp. 500,-
Untuk menjaga adik waktu ibu belanja Rp. 1.000,-
Untuk membuang sampah Rp. 1.000,-
Untuk nilai yang bagus Rp. 5.000,-
Untuk membersihkan dan menyapu halaman Rp. 1.000,-
Jadi jumlah utang ibu adalah Rp. 11.500,-

Sang ibu memandangi anaknya dengan penuh harap. Berbagai kenangan terlintas dalam benak sang ibu. Lalu ia mengambil pulpen, membalikkan kertasnya. Dan inilah yang ia tuliskan:

Kamis, 08 November 2012

Si Kaya dan si Miskin


Pada suatu hari seorang pemuda sedang berjalan di tengah hutan, tiba-tiba ia mendengar jeritan minta tolong. Ternyata ia melihat seorang pemuda sebaya dengan dia sedang bergumul dengan lumpur yang mengambang. Semakin bergerak malah semakin dalam ia terperosok. Pemuda yang pertama tadi hendak sekuat tenaga memberikan pertolongannya. Dengan susah payah pemuda yang terperosok itu dapat diselamatkan. Pemuda yang pertama tadi memapah pemuda yang terperosok itu pulang ke rumahnya.

Ternyata si pemuda kedua ini anak orang kaya. Rumahnya sangat bagus, besar dan mewah luar biasa. Ayah pemuda ini sangat berterimakasih atas pertolongan yang diberikan kepada anaknya dan hendak memberikan uang, tetapi pemuda pertama tadi menolak pemberian tersebut. Ia berkata bahwa sudah selayaknya sesama manusia menolong orang lain yang sedang dalam kesusahan. Sejak kejadian ini mereka menjalin persahabatan.

Si pemuda pertama adalah seorang miskin sedangkan pemuda kedua adalah anak seorang bangsawan kaya raya. Si pemuda miskin mempunyai cita-cita menjadi seorang dokter, namun ia tidak memiliki biaya untuk kuliah. Kemudian ada seorang yang murah hati yang mau memberikan beasiswa untuknya sampai akhirnya meraih gelar dokter. Orang ini tak lain adalah ayah pemuda yang ditolongnya tadi.