Tampilkan postingan dengan label Egois. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Egois. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Desember 2012

Olimpiade Yang Istimewa


Beberapa tahun lalu, diadakan olimpiade khusus orang-orang cacat di Seattle. Saat itu dilakukan pertandingan lari jarak 100 meter. Sembilan pelari telah bersiap-siap di tempat start masing-masing.

Ketika pistol tanda pertandingan dinyalakkan, mereka semua berlari, meski tidak tepat berada di garis lintasannya, namun semuanya berlari dengan wajah gembira menuju garis finish dan berusaha untuk memenangkan pertandingan. Kecuali, seorang pelari, anak lelaki, tiba-tiba tersandung dan terjatuh berguling beberapa kali. Ia lalu menangis.


Delapan pelari mendengar tangisan anak lelaki yang terjatuh itu. Mereka lalu memperlambat lari mereka dan menoleh ke belakang. Mereka semua berbalik dan berlarian menuju anak lelaki yang terjatuh di tanah itu.

Semuanya, tanpa terkecuali.

Seorang gadis yang menyandang cacat keterbelakangan mental menunduk, memberikan sebuah ciuman padanya dan berkata, “Semoga membuatmu merasa lebih baik.”

Selasa, 04 Desember 2012

Sepasang Sepatu Sport


Menjadi “sama dan serupa” dengan remaja lain merupakan keinginan dari semua remaja. Saya ingat benar bagaimana sebagai seorang remaja dalam tahun 1963 saya merasa harus memiliki sepasang sepatu sport mutakhir yang sedang “in”. Persoalannya, bulan lalu saya baru saja membeli sepasang sepatu kulit!

Tapi, sepatu sport benar benar sedang mode, oleh sebab itu saya datang kepada Ayah minta bantuannya. “Saya perlu sedikit uang untuk sepatu sport”, ujar saya suatu petang di bengkel di mana Ayah saya bekerja sebagai montir.

“Willie” Ayah kelihatannya terkejut. “"Sepatumu baru berumur satu bulan, tapi mengapa kini kau perlukan sepatu baru?”"

“"Setiap orang memakai sepatu sport, Yah!”"

“"Sangat boleh jadi nak, Namun hal tersebut tidak menjadikan Ayah mudah membayar sepatu sport.”"

Gaji Ayah memang kecil dan sering tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“"Ayah, saya tampak seperti bloon memakai sepatu jenis ini” kataku sambil menunjuk kepada sepasang sepatu oxford baru."

Ayah memandang dalam dalam ke mataku.

Selasa, 20 November 2012

Kisah Sang Kondektur Wanita

Ayo…. Ayo …. Ancol, Sunter Podomoro, Priok…."
Ancol, Sunter Podomoro, Priok….
Tunggu….!!! Tunggu….!!!
Ada sewa! Ayo…ayo naik…. Tarik!
Begitulah, kondektur wanita itu berteriak lantang menawarkan busnya. Tak kenal lelah, panas, hujan, terik, semuanya dilaluinya tanpa merasa terbebani.

Profesi wanita itu hanya sebagai kondektur. Tidak ada yang istimewa dengan dirinya, pakaiannya, gayanya ataupun suaranya yang melengking di tengah deru kendaraan. Yang membuat Anna tertarik untuk memperhatikannya adalah semata-mata karena ia seorang wanita yang bekerja sebagai kondektur. Sebuah profesi yang masih sedikit langka dan sulit dilakukan oleh kaum hawa.

Entah mengapa Anna begitu tertarik memperhatikan gerak-geriknya. Lincah, gesit, spontan dan sangat percaya diri

Bus berjalan perlahan meninggalkan terminal. Di tengah jalan, tidak seberapa jauh dari pusat perbelanjaan besar, bus berhenti. Kami para penumpang biasa menyebutnya dengan istilah “ngetem” yakni berhenti cukup lama untuk mencari penumpang. Tidak beberapa lama setelah penumpang memenuhi bangku-bangku kosong, bus mulai berjalan perlahan, perlahan, perlahan hingga akhirnya bergerak menjauh. Dengan mantap, sang supir pun menginjak pedal gas dalam-dalam. Tak terasa bus sudah berjalan jauh, tanpa komando dari kondektur.